Senin, September 28, 2009

Don't Be an Exercise Dropout

"Don't Be an Exercise Dropout", begitu judul artikel yang saya baca di Majalah Reader's Digest terbitan tahun 1991 yang saya temukan di tumpukan majalah tua di gudang.

Isinya mengingatkan saya tentang perjuangan saya untuk mulai renang setelah menderita HNP. Awalnya memang sulit sekali. Bahkan kenangan rasa sakit yang saya alami pun ternyata tidak cukup kuat untuk memotivasi saya untuk mulai berenang. Untunglah semua itu sudah lewat, sekarang ini renang sudah bisa saya jadikan rutinitas.

Untuk teman-teman yang mungkin sedang berjuang menjadikan olah raga sebagai rutinitas, mungkin baik saya bagi apa yang saya baca di Reader's Digest ini.

1. Bersiap-siaplah untuk kehabisan tenaga. Jangan percaya bahwa olah raga dapat membuatmu merasa bergairah secara cepat karena Anda pasti kecewa. Tapi bertahan lah, sesudah beberapa waktu Anda dapat berolahraga tanpa merasa kehabisan tenaga.

2. Olah raga lah untuk mendapatkan reward terselubung. Menurut Sue Browder penulis artikel Don't Be an Exercise Dropout, jangan berolah raga untuk memiliki tubuh yang bagus, perut yang twelvepack karena hasilnya mungkin mengecewakan dan membuat kita patah semangat. Untuk bisa tetap mempertahankan kebiasaan olah raga kita justru memerlukan inner rewards, seperti tidur lebih nyenyak, lebih tenang, lebih berperilaku positif dll.

Ini saya alami sendiri, kalau dari awal saya renang supaya kurus, pasti saya sudah berhenti dari dulu karena kenyataannya sampai sekarang saya nggak kurus-kurus meski renang 3 kali seminggu. Tapi karena niatnya untuk relaks ya terima kasih saya tetap bisa mempertahankan rutinitas.

3. Lakukan dengan cara mu. Cari lah olah raga yang sesuai dengan kepribadianmu. Kalau lebih senang bersosialisasi mungkin olah raga tennis atau basket lebih bisa membuat betah, dari pada bersepeda. Kalau takut terluka, lebih baik jalan kaki daripada olah raga bela diri. Betul sekali kan...?

4. Jika merasa pegal-pegal jangan patah semangat. Bagi yang bertahun-tahun tidak pernah olah raga, gerakan 30 menit bisa membuat otot tubuh terasa pegal-pegal tidak karuan. Jika karena itu ingin beristirahat beberapa hari it's ok, tapi jangan berhenti berolah raga. Sesudah hilang pegal-pegalnya, mulai lah lagi. Ah iya, saya juga mengalami yang seperti ini. Apalagi saya menderita HNP, di awal-awal rasanya koq tidak ada perbaikan, koq malah pegal-pegal. Sudah pegal karena HNP, pegal lagi karena renang..hampir membuat saya berhenti. Tapi saya yakin kan bahwa itu hanya awalnya saja eh..ternyata benar...

5. Melamun lah saat berolah raga. Nah ini saya akui. Dulu waktu niatnya ingin kurus, saya olah raga dengan sepeda statis, supaya tidak bosa saya naik sepeda sambil nonton tv, tapi gagal. Sepeda statis saya tinggalkan. Kadang waktu berenang saya juga bisa bosan, tapi melamun ternyata membuat renang menjadi mengasyikkan. Kadang saya memperhatikan desah nafas yang saya buang, mendengar suara air terpercik yang timbul karena gerakan saya atau menghitung gerakan saya. Tak trasa saya sudah berputar 15 kali.

6. Cari teman untuk berkeringat bersama. Teman-teman bisa membuat kita bertahan dengan rutinitas. Ini juga saya alami, di tempat saya renang ada beberapa ibu-ibu yang selalu menjadi teman saya renang. Kami selalu saling bertanya "Koq kemarin tidak renang..?", " Hari apa lagi renang..?"atau "Besok datang ya, saya nanti bawa kue.."Haha..semua itu membuat kita segan untuk tidak datang, dari pada pusing mencari alasan kenapa tidak datang mending datang deh..Lagian malu juga kalau sering-sering bolos. Satu teman yang selalu membuat saya termotivasi adalah seorang ibu yang sudah berumur 78 tahun, berenang 3 kali seminggu, dan bisa melakukan 20 putaran. Masa saya yang jauh di bawahnya tidak bisa !?

Ah..itu lah dia kalau kita sudah bisa rutin seminggu dua minggu, sepertinya semua menjadi lebih ringan.

So keep going friends...


Sabtu, Agustus 29, 2009

Novena Tiga Salam Maria



NOVENA TIGA SALAM MARIA

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti bisa dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Putera mu.

Baik keluhuran Tuhan, penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karena itu, kalau permohonan ku ini benar-benar sesuai dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku in ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.

Pengharapanku yang besar in, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St. Machtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa ”Tiga Salam Maria”, yang sangat besar manfaatnya itu.

Doa : Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus, Santa Maria bunda Allah doakan lah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati (3 X)

Sampaikan permohonan Anda...

Perawan suci yang disebut Takhta Kebijaksanaan, karena sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.

Engkau tahu betapa besar kesulitan yang ku hadapi ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diri seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonan ku ini.
Oh Maria, Bunda kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui sabda Ilahi kepadamu.

Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi ”Tiga Salam Maria” aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaamu yang tiada taranya itu.

Doa : Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus, Santa Maria bunda Allah doakan lah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati (3 X)

Sampaikan permohonan Anda...

Oh Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai ”Bunda yang penuh belas kasih”, aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaan ku, makin besar pula belas kasihmu kepada ku.

Aku tahu bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu, sebab seringkali aku menyedihkan hatimu, dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hati kudus mu.

Engkau memperkenalkan diri sebagai ”Bunda para pendosa yang bertobat” kepada St. Brigitta, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku kepadamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja, serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.

Oh Bunda, Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum penah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolonganmu enkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu, serta pengajar devosi ”Tiga Salam Maria”, aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.

Doa : Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus, Santa Maria bunda Allah doakan lah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati (3 X)

Sampaikan permohonan Anda...

Ibu Maria, Ibuku yang baik hati, bantulah aku dalam menempuh kehidupanku ini, agar aku dapat mencapai kebahagiaanku dan cita-citaku.
Oh Bunda bila aku ingat akan masa depanku dan kesulitan-kesulitan, aku merasa sangat khawatir dan sedih, sering-sering merasa berputus asa.
Karenanya Bunda, tolonglah aku dalam kesulitan-kesulitanku ini, bantulah agar aku selamat, sampai pada cita-citaku.
Oh Roh Kudus, terangilah akal budiku dan bimbinglah aku, ampunilah kesalahanku dan kabulkanlah doa ku.
Amin

Bunda Maria, bunda yang baik dan murah hati, jauhkanlah diri ku dari dosa berat dalam tiap permohonan.

Kamis, Agustus 06, 2009

Ngekos di Usia Tua

Benar...seumur-umur saya belum pernah ngekos. Lahir dan besar di Medan, tepatnya di Kampung Baru, lalu kuliah juga di Medan membuat saya tidak pernah merasakan tinggal di kos-kosan. Tetapi ternyata di usia "beyond forty" saya harus merasakan hidup ngekos, di Jakarta pula.Eeeitss..jangan mikir macam-macam dulu, saya ngekos bukan karena lari dari rumah lho..hehe..
Saya ngekos karena menemani Tita anak gadis ku yang mengambil keputusan untuk tinggal jauh dari saya. "Tita nggak mau seperti Mami yang terus di Medan. Tita nggak mau di bawah ketiak Mami terus", begitu alasannya.
Bagus lah Nak..

Jadi lah dia yang diterima di BINUS University berangkat ke Jakarta. Untuk menemani dia saya meninggalkan kantor dan praktek selama 2 minggu. Beberapa teman ada yang pro dengan keputusan saya ini, tapi ada juga yang kontra. Tapi saya pikir peduli amat, masing-masing punya cara sendiri.
Hari ini sudah 12 hari saya ngekos bersama Tita. Tempat kos nya di daerah Kebun Jeruk Batu Sari. Kamar kosnya berukuran 2x3 meter, dengan 1 tempat tidur, 1 lemari pakaian, dan 1 meja belajar.

Hari-hari pertama di kos an, terasa lucu buat saya maupun Tita. Tita terbiasa bicara keras-keras, "Aku kan orang Batak" begitu alasannya. Jadi di kos-kosan saya minta dia kecilkan suaranya, "Nanti dikira orang kita berantem Tita" kata saya.
Tapi seminggu pertama di kos, dikamar ukuran 2x3 ini, kami memang berantem. Kalau di rumah kami di Kampung Baru, kalau saya merepet, Tita masuk kamarnya. Tapi di kos-kosan ini, yang sebenarnya kamar dia yah dia mau kemana lagi. Lah saya, mau ke mana juga supaya marah saya nggak makin memuncak, wong nggak tahu jalan di Jakarta ini..hehe. Akhirnya kami hanya punggung-punggungan sambil berdiam diri.
Hanya sekali saya nekad keluar dengan angkot saat sedang marah, yakni ke pasar dekat kos-kosan. Niatnya habis dari pasar mau ke Plaza Senayan, tapi lagi-lagi bingung. Akhirnya balik lagi ke kos-kosan, kebetulan sudah tahu nomor angkot untuk balik ke kos. Whualah...
Mungkin dalam hati Tita sudah tahu kalau mamanya ini "omdo" omong doang, gayanya aja mau pergi jauh-jauh, akhirnya kembali juga...hihihi..

Sudah 4 hari Tita mulai ke kampus untuk POSMA, berseragam putih hitam, bawa termos air, kotak makan untuk diisi bekal makan siangnya. Setelah dia pergi saya sendiri di kamar kos, bolak-balik menyapu kamar kos, beresin lemari. Kalau ada yang mengajak jalan dan ketemuan, wah senangnya...hehe.
Hari ini saya ke warnet, buka email dan kemudian lahirlah tulisan ini.

Enak juga ya jadi anak kos...!

Kamis, Mei 07, 2009

Renang dan Hernia Nucleus Pulposus

Sudah 1 tahun lebih saya mempunyai kebiasaan rutin untuk berenang paling sedikit 3 kali seminggu sebelum saya ke kantor. Bukan karena ingin langsing karena saya pikir kalau badan emang sudah bernilai A (Ancur maksud saya) diapakan juga tetap A.
Saya renang karena ingin sehat karena saya punya problem dengan syaraf tulang belakang yang menurut literatur dan dokter, obatnya adalah renang.

Kalau orang awam menyebutnya sebagai syaraf kejepit, orang Jawa menyebutnya keceklik orang medis menyebutnya HNP, singkatan dari Hernia Nucleus Pulposis.
Suatu kondisi akibatnya bergesernya bantalan antar tulang belakang (vertebral disk) atau keluarnya materi inti akibat robekan dari dinding bantalan yang kemudian mengiritasi syaraf tulang belakang.
Keluhan dan gejala tergantung dari lokasi penekanannya dan setingkat mana syaraf yang mengalami penekanan.
Menurut statistik, HNP paling sering mengenai ruas tulang pinggang 4 dan 5 (Lumbal 4-5)dan ruang tulang pinggang 5 dengan tulang bokong 1 (Lumbal 5 - Sacrum 1.
Ya, saya pun mengalami penjepitan pada L4-L5 dan L5-S1.

Semua berawal ketika saya, bak superwoman, mendorong lemari hanya karena saya ingin merubah ruang tempat anak-anak belajar agar nyaman. Itu kejadian tahun 2005. Karena penekanan kearah kiri maka yang sakit dan terganggu adalah tungkai kiri.
Sakitnya minta ampun, saya sampai tidak bisa jalan. Kalau jalan harus menyeret kaki. Duduk adalah kegiatan yang sangat menyiksa saya. Baru 5 menit duduk saya sudah harus berdiri lagi. Jadi kalau sudah harus ke toilet untuk poep saya sudah keringat dingin duluan membayangkan saya harus duduk selama paling sedikit 10 menit, mana toliet itu keras pula dudukannya. Benar-benar tersiksa....
Dua minggu saya menderita tetapi dengan obat dan fisiotherapi akhirnya saya bisa jalan dan pulih. Tahun 2005 itu saya sudah mulai renang juga tapi tidak rutin dan lama-lama tidak renang sama sekali.

Akhir 2007, sebagai sekretaris panitia ulang tahun rumah sakit, saya capek sekali dan pada perayaannya saya banyak jalan ke sana ke mari menggunakan sepatu hak tinggi. Padahal itu pantangannya dan semua sepatu kerja saya yang berhak tinggi sudah disingkirkan dari rak berganti sepatu tidak berhak.
Satu minggu sesudahnya, saya yang lagi demen-demennya mengurus tanaman, dengan santainya mengangkat pot tanpa meminta bantuan. Lupa sudah sakit yang dirasakan tahun 2005 lalu.
Esoknya kumat lagi. Dari MRI, penyempitan sekarang ke arah sentral. Makanya keluhan saya rasakan tidak saja di tungkai kiri tapi juga di tungkai kanan.
Kalau dulu gambarannya hanya bulging (menonjol keluar) pada L4-5 dan L5-S1 maka kali ini gambarannya pada L4-5 sudah ada protrusi (keluarnya materi) dan tear (robekan) dari diskus intervertebra.
Alamak...benar-benar parah lah saat itu. Saya merasakan nyeri yang menjalar dari daerah bokong ke mata kaki serta kebas di 3 jari kaki saya (jari tengah, jari manis dan kelingking. Tidak ada kegiatan dan posisi yang nyaman, semuanya membuat nyeri.
Saya sempat dirawat selama 2 minggu, bed rest terus dan "dipasung" lagi dengan traksi. Jadi pinggang saya diikat kuat dengan sabuk dan dihubungkan dengan beban bantal pasir seberat 10 kg yang mengakibatkan sabuk tertarik. Dengan begitu diharapkan ruang antar tulang belakang melebar dan materi yang mengalami penekanan bisa kembali ke posisi semula. Jadi saya hanya tidur terlentang tanpa bisa miring ke kiri atau ke kanan. Minta ampun....
Selama berbaring saya hanya bisa berdoa, saya takut sekali lumpuh, saya memikirkan anak-anak yang hanya bergantung pada saya.
Dalam setiap helaan nafas karena sakit saya hanya bisa mengucapkan doa kerahiman Ilahi. Tuhan kasihanilah aku...Tuhan kasihanilah aku..
Tapi itulah ya, seperti makan cabe, hilang pedas lupa juga kita sama rasa pedasnya. Begitu juga saya, 1 minggu sembuh masih masa istirahat di rumah, tangan ini sudah gatal mau main tanah lagi.
Ya udah...kena lagi...opname lagi...
Kali ini benar-benar parah, saat berbaring saya hanya bisa mengangkat kaki saja sekitar 10 cm saja dari tempat tidur. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Posisi yang sedikit membuat nyaman hanya lah berbaring telungkup.
Dokter syaraf akhirnya mengkonsulkan saya ke dokter bedah syaraf. Oleh dokter bedah syaraf dianjurkan operasi jika dalam waktu 2 minggu tidak ada perbaikan.
Kali ini saya benar-benar down, apalagi mendengar bahwa saya harus dioperasi.
Kalau memikirkan sakitnya, rasanya memang ingin cepat-cepat saja dioperasi agar sakitnya hilang.
Tapi beberapa teman sejawat menyarankan agar tidak usah operasi karena resikonya juga besar. Saya sempat dilanda kebingungan apalagi keluarga juga tidak mendukung saya untuk dioperasi.Untunglah seorang teman dokter fisiotherapi memberi saya support dengan memberi artikel-artikel yang menyatakan bahwa tidak semua HNP harus dioperasi.

Di hari dead line apakah mau operasi atau tidak saya masih belum bisa jalan tapi pagi itu saya ingin pergi berenang dulu. Pergi berenang saya tertarih-tatih pulang renang saya sudah bisa berjalan dengan lebih baik. Saya pikir ini pertanda baik.
Akhirnya saya putuskan untuk mencari second opinion ke Singapura. Saat itu saya tetapkan hati bahwa apapun yang disarankan dokter di sana akan saya laksanakan termasuk kalau operasi.
Akhirnya dari dokter bedah syaraf di Mount Elisabeth saya disarankan hanya berenang saja, tidak usah operasi, penekanan pada syaraf akibat HNP tidak seberapa parah.
Ya sudah saya kembali ke Medan dengan keyakinan saya pasti sembuh dengan renang.

Sejak itu saya mulai renang dan kali ini saya benar-benar komit untuk berenang terus, minimal 3 kali seminggu.
Hasilnya memang benar-benar baik meski tidak secara drastis.
Sampai sekarang sudah setahun lebih saya rutin renang.
Karena waktu yang terbatas, hanya satu jam mulai dari datang sampai keluar dari komplek kolam untuk bekerja, saya merasa harus benar-benar menggunakan waktu yang ada dengan baik.
Saat ini saya sudah bisa renang non stop selama setengah jam atau paling lama 45 menit. Awal-awal saya hanya mencoba 1 kali putaran, lalu saya tingkatkan perlahan-lahan hingga akhirnya bisa seperti sekarang.
Memang belum apa-apa tetapi bagi saya itu sudah jauh lebih baik.
Dan memang saya jadi ketagihan dengan renang. rasanya kalau tidak renang badan menjadi kaku dan malah mudah lelah.
Tadinya saya khawatir kalau saya renang sebelum ngantor, saya di kantor akan kecapekan dan mengantuk. Tetapi kenyataannya tidak. Malah kalau saya tidak renang, habis makan siang saya sudah kehilangan energi, bawaan mau tidur saja.
Menurut seorang dokter jantung, renang adalah olah raga yang paling baik untuk jantung dan juga sendi. Karena renang tidak memberi beban pada sendi olah raga ini lah yang paling bisa dilakukan hingga usia tua, dibandingkan olah raga lain.
Ya akhirnya saya yakin renang memang cocok untuk saya.

Di kolam renang Hotel Danau Toba tempat saya renang, banyak sekali saya bertemu dengan ibu-ibu yang berusia di atas 45 tahun umumnya juga punya keluhan yang sama meski tidak separah saya dan keluhan lain di lutut. Tetapi mereka mengakui bahwa renang memang membuat keluhan sakit banyak berkurang.
Memang secara statistik 3 dari 5 orang pernah menderita sakit pinggang dan 60% darinya adalah karena HNP.

Sebenarnya HNP bisa dicegah dengan memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Melakukan latihan-latihan untuk mengencangkan otot perut untuk memberikan stabilitas yang lebih baik bagi tulang belakang, seperti renang, bersepeda statis dan berjalan ringan.

2. Gunakan teknik yang baik dalam mengangkat dan bergerak, seperti berjongkok saat akan mengangkat barang yang berat. Jangan membungkung dan mengangkat. Minta bantuan jika benda yang mau diangkat terlalu berat. Dekatkan benda yang diangkat ke arah dada

3. Perhatikan posisi duduk dan berdiri yang benar. Tidak duduk dengan bokong hanya menyentuh ujung kursi tapi letakkan seluruh bokong dengan punggung menyentuh sandaran kursi. Jangan duduk berselonjor karena akan memberi beban pada tulang punggung

4. Berhenti merokok. Merokok merupakan faktor resiko untuk artherosclerosis (pengapuran pembuluh darah) yang dapat menyebabkan sakit pinggang dan gangguan degeneratif pada tulang belakang.

5. Hindari stress, karena akan menyebabkan kejang pada otot-otot.

6. Pertahankan berat badan yang sehat. kelebihan berat badan pada daerah perut akan menyebabkan beban bagi tulang belakang.

Bagi pasien-pasien yang saya temui di rumah sakit maupun di praktek,saya lah contoh kasus bahwa HNP tidak selalu harus dioperasi. Dan saya selalu mengkampanyekan renang untuk kesehatan tulang belakang dan lutut.

Tapi diatas semua itu saya berterima kasih pada Tuhan bahwa saya akhirnya diberi kesembuhan. Rasanya tidak bisa dipercaya bahwa dari tidak bisa jalan akhirnya saya bisa berjalan dan beraktivitas lagi dan sekarang renang 40 menit nonstop.

Terima kasih Tuhan...

Rabu, April 22, 2009

Sepenggal Pengalaman Selama Menjadi Dokter Jaga UGD

Tahun ini adalah tahun ke 16 saya bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Tahun 1993, selesai wisuda saya langsung di terima bekerja sebagai dokter jaga di UGD setelah sebelumnya sempat 2 minggu menjadi dokter di sebuah klinik di dekat rumah.

Selama 2 minggu di klinik tersebut seingat saya hanya ada 2 pasien yang datang berobat. Seorang ibu dan seorang gadis berusia 18 tahun yang dibawa ayahnya. Ayahnya curiga bahwa anak gadisnya sudah tidak perawan lagi dan dia ingin saya memeriksanya. Saya bisa saja memeriksanya tapi karena hal ini bisa menyangkut hukum maka saya menyarankan bapak itu membuat pengaduan ke polisi lalu polisi akan mengeluarkan surat visum. Berdasarkan surat visum tersebutlah saya akan memeriksa anak nya.

Begitu saya diterima bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth, saya pun meninggalkan klinik tersebut. Senang dan membanggakan rasanya bisa diterima sebagai dokter jaga di RS St Elisabeth. Dari belum tamat saya sudah bermimpi suatu hari saya bisa bekerja di rumah sakit ini.
Saat saya masuk ada beberapa senior saya yang juga bekerja sebagai dokter jaga, bahkan ada juga mantan dosen saya di FK USU ; dr. Sorimuda Sarumpaet. Saat itu hampir semua dokter spesialis yang terkenal yang umumnya juga adalah dosen-dosen saya, ada di rumah sakit ini. Jadi awal-awal saya merasa grogi juga, seperti masuk ke sarang harimau.

Pertama kali saya dinas, saya langsung diberi dinas malam menggantikan dokter jaga yang keluar karena diterima untuk pendidikan dokter spesialis. Tidak ada perkenalan dan orientasi kerja sebelumnya. Perkenalan langsung dilakukan hari itu juga dan langsung mulai start sebagai dokter jaga..uuuhhh...
Sehingga saya mengambil inisiatif sendiri untuk datang lebih awal dari jadwal jaga, diantar dan diperkenalkan oleh Suster Kepala Keperawatan yang menjabat saat itu.
Hanya beberapa jam lah saya orientasi melihat bagaimana dokter jaga bekerja menerima, memeriksa dan memberikan terapi. Saya juga melihat bagaimana koordinasi dan hubungan kerja dokter dengan perawat-perawat lainnya di UGD. Waktu itu belum ada yang namanya SOP (Standar Operation Procedure) yang tertulis, jadi semua bekerja hanya berdasarkan kebiasaan saja. Masing-masing dokter juga bekerja berdasarkan apa yang didapat di bangku kuliah dan pengalaman selama co asisten lalu ditambah modifikasi sana sini berdasarkan pengalaman.

Saya gak ingat pasien apa saja yang datang berobat di malam pertama itu. Tapi yang saya ingat adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di kamar dokter jaga saat saya tidur.
Malam itu saya tidur di kamar dokter jaga yang berada di ujung lorong yang berlawanan dengan lorong di mana UGD berada. Dari pintu gerbang utama rumah sakit,UGD berada di lorong yang ke kiri, maka kamar dokter jaga berada di lorong yang ke kanan. Saya ingat, saya terbangun karena ada bunyi berdesis dan suara seperti ranting terbakar. Begitu saya lihat ternyata ada api yang menjalar dikabel Air Condition, saya langsung meloncat dari tempat tidur dan lari keluar kamar menuju UGD.
Saat itu rumah sakit belum memiliki sistem tanggap darurat kebakaran sehigga saat saya beritahu satpam kalau ada kebakarangan mereka bingung, alat pemadam kebakaran juga tidak ada. Tapi untunglah akhirnya api bisa dikendalikan dengan alat sederhana. Malam itu saya tidur di salah satu tempat tidur UGD. Untung juga malam itu tidak banyak pasien datang ke UGD.
Sungguh suatu ucapan selamat datang yang tidak biasa...

Bekerja di UGD RS St Elisabeth membuat saya menimba banyak pengalaman. Letak rumah sakit yang berada di pusat kota, dikelilingi oleh arus lalu lintas yang padat apalagi ada 2 sekolah yang terkenal, Sekolah Immanuel dan Sekolah Harapan di dekat rumah sakit, membuat banyak kasus-kasus kecelakaan lalu lintas dan kasus luka-luka akibat perkelahian antar sekolah datang berobat ke UGD. Apalagi kalau malam minggu, karena daerah sekitar rumah sakit adalah ajang balap liar dan ajang dugem.

Selain kasus yang beragam, dinas malam di rumah sakit memang tak pernah membosankan. Selalu ada ritual memasak indomie atau nasi goreng di UGD, lalu kami makan ramai-ramai (jika tidak ada pasien tentunya) termasuk dengan Satpam yang bertugas malam.
Rasanya nasi goreng dan indomie UGD adalah yang paling enak yang pernah saya rasakan. Pernah sekali waktu dinas malam, seorang dokter senior lewat sehabis visit dan kami ajak makan nasi goreng. Beliau pun memuji nasi goreng UGD...hahaha...apa yang gak enak kalau perut lapar ya...?
Sampai sekarang setelah saya tidak lagi berdinas di UGD, saya masih sering rindu mencicipi indomie dan nasi goreng yang dibuat UGD.

Ada juga pengalaman lucu yang lain sewaktu dinas malam.
Kadang-kadang selesai menangani pasien di tengah malam, saya tidak langsung masuk ke kamar jaga tapi duduk-duduk mengobrol ngalor ngidur dengan perawat. Kadang cerita soal hantu-hantu yang (katanya) ada di rumah sakit. Tapi saya sendiri tidak pernah merasakan adanya gangguan hantu-hantu tersebut.
Suatu malam, setelah ngobrol tentang hantu, saya pun pamit untuk tidur. Sebelum tidur saya ke kamar mandi yang ada diseberang kamar dokter jaga. Beberapa hari terakhir ini, handel pintu kamar mandi sering macet dari arah dalam, sehingga sebelum masuk kamar mandi saya memastikan handeltidak macet. Lalu saya pun masuk dan mengunci pintu. Tapi begitu saya hendak keluar, pintu kamar mandi tidak bisa terbuka dari dalam. Saya coba beberapa kali tidak juga berhasil. Waduh, gawat ! Lalu saya naik ke bak mandi dan berteriak memanggil Desmanto, salah satu erawat UGD yang jaga malam bersama saya,melalui jendela di atas bak mandi. Tapi sepertinya sia-sia karena kamar dokter jaga berada di ujung lorong yang satu sementara UGD berada di ujung lorong yang lain. Putus asa, saya duduk di toilet. Saya sudah pasrah, sepertinya saya harus menunggu di kamar mandi sampai ada pasien. Kalau ada pasien, biasa perawat UGD menelepon ke kamar jaga. Kalau telepon lama tak diangkat, perawat pasti akan datang ke kamar jaga dan saat itulah kesempatan saya untuk berteriak memberitahu perawat kalau saya terkunci di kamar mandi. Tapi itu artinya saya hanya bisa duduk di toilet menunggu sampai ada pasien.
Wah, nggak lah. Saya harus coba berteriak sampai perawat mendengar. Lalu saya naik lagi ke bak dan berteriak sekuatnya. Kali ini usaha saya berhasil, Desmanto mendengar dan menyahut dari arah UGD.

"Ya..siapa...? " saya dengar dia menyahut
"Saya Des, dokter Maria. Saya terkunci di kamar mandi.. ! " teriak saya lagi

Tak lama Desmanto pun datang dan membukakan pintu kamar mandi dari luar. Aduh, lega rasanya...
Desmanto terheran-heran dan saya menceritakan kenapa saya bisa terkunci di kamar mandi.

"Memang saya dengar nama saya dipanggil-panggil, tapi saya pikir itu hantu, Dok.." katanya sambil terkekeh-kekeh.
Hantu gundulmu Des...

Ada pula pengalaman yang sempat membuat deg-degan.

Suatu hari saat saya berdinas, seorang karyawan dari unit farmasi datang berobat. Katanya telapak tangannya kemasukan duri ikan. Saya lihat telapak tangannya tidak ada luka tapi teraba benda bulat yang keras sebesar kacang kedele di telapak tangannya. Saya memang heran, bagaimana mungkin ada benda yang katanya duri ikan tapi teraba bulat dan tidak terlihat pula jalan masuknya benda tersebut hingga bisa ada di bawah kulit telapak tangan.
Dia minta saya mengeluarkannya. Awalnya saya ragu dan berencana untuk merujuknya ke dokter bedah saja.
Tapi dia keberatan, "Dokter saja lah yang mengeluarkan" begitu katanya.
Ya sudah, saya pun meminta perawat mempersiapkan semua perlengkapan bedah minor. Saya akan mengeluarkan benda asing itu.

Setelah melakukan pembiusan lokal, saya melakukan insisi tepat diatas area di mana ada benda asing tersebut. Tapi herannya setelah saya buka, saya tidak menemukan benda asing yang sebesar kacang kedelai itu. Saya eksplorasi tapi tidak juga saya temukan. Aneh, di mana salah saya..
Akhirnya saya menyerah dan saya katakan kepada karyawan tersebut bahwa saya ingin merujuknya ke dokter bedah. Dia yang tadinya menolak akhirnya setuju. Dr. Erwin Dharma Kadar ahli bedah ortopedi yang terkenal menjadi pilihan saya.
Instruksi beliau agar pasien segera dibawa ke kamar bedah.

Satu jam berlalu, saya didatangi oleh perawat kamar bedah mengatakan saya dipanggil Dr. Erwin. Bagi kami dokter UGD, kamar bedah itu sarang penyamun tempat dokter-dokter dan perawat-perawat yang galak bersemayam. Saya sempat takut juga tapi sudahlah..

Sesampai di kamar bedah, saya lihat karyawan tadi masih terbaring di meja operasi dengan tangan terulur ditutupi kain duk, dikelilingi oleh perawat.
Saya langsung disambut dengan bentakan keras Dr. Erwin.

"Kau Dokter Maria ?"
" Iya Dokter.." jawab saya mencoba tenang.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan dengan pasien itu?" bentaknya keras
"Ya, saya tahu Dok. " jawab saya mantap
Lalu saya menceritakan temuan saya dan apa yang saya lakukan selanjutnya terhadap pasien tersebut.
"Tamatan mana kau ?"
"Dari USU, Dokter " jawab saya
"Kau lakukan hal yang kau lakukan tadi waktu di pendidikan " tanyanya masih dengan suara yang keras.
" Iya, Dokter" Apa yang tidak kami lakukan sewaktu kami pendidikan.
Lalu beliau pun mengomel dan menceritakan bahwa beliau tidak menemukan apa pun dari luka insisi yang telah saya lakukan meski dia sudah menggunakan C Arm. Saya hanya terdiam dengan rasa heran mengapa kami dengan kompetensi masing-masing tidak bisa menemukan benda asing yang jelas-jelas teraba oleh saya di telapak tangan si pasien.

Setelah puas mengomel, beliau pun menyuruh saya kembali ke UGD.
Di UGD saya disambut dengan bermacam-macam pertanyaan. Tak lama Dr. Erwin Dharma Kadar datang ke UGD. Saya dan perawat-perawat lain menduga dia akan melanjutkan omelannya terhadap saya, ternyata tidak. Dia menyapa saya dengan ramah dan menepuk pundak saya sambil pamit pulang.
Setelah dia hilang dari pandangan, seorang perawat kamar bedah yang ikut bersama dia menyampaikan ke saya, kalau sewaktu saya dipanggil, Dr. Erwin berkata ke perawat kamar bedah kalau saya akan dibuatnya menangis.
Ketika kemudian saya tidak menangis, perawat bedah mengganggu beliau. Tapi beliau menjawab katanya beliau tidak sampai hati juga setelah melihat wajah saya yang memelas.
Wah...padahal saya tidak merasa ada memasang wajah memelas...hehe

Sejak itu hubungan saya dengan Dr. Erwin Dharma Kadar malah menjadi baik dan akrab. Beliau sering mampir ke UGD untuk sekedar menanyakan apakah UGD aman-aman.
Ternyata tidak ada yang perlu ditakutkan dari kamar bedah itu..

Kembali ke si karyawan, saya dengar-dengar benda asing yang ada di telapak tangannya itu sebenarnya susuk yang salah tempat, sehingga ingin dia keluarkan. Mungkin juga ya. makanya saya tidak menemukan luka jalan masuk benda asing tersebut. Tetapi saya tidak pernah mempertanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan.
Oh...susuk...susuk....

Rabu, April 15, 2009

Bersiap Melepas Tita

Akhir-akhir ini pikiran saya dipenuhi dengan urusan persiapan Tita untuk Ujian Akhir Nasional SMA dan urusan mau ke mana dia setelah selesai SMA. Begitu banyak Perguruan Tinggi Negeri yang melaksanakan ujian mandiri diluar SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan informasinya hanya ada di internet. Bulan Februari yang lalu kami sempat ke Pekan Baru agar dia bisa ikut ujian penerimaan mahasiswa baru di UI (SIMAK UI) padahal UAN sendiri belum dilaksanakan. Walaupun akhirnya dia tidak diterima, yah saya memang sudah ikhlas dan rela. Paling tidak dia sudah tahu bagaimana model ujian penerimaan.

Semua urusan-urusan ini menyebabkan saya terhenyak, betapa waktu cepat sekali berlalu.

Bayi kecil yang dulu saya timang-timang sekarang sudah lebih besar dari saya dan sedang bersiap-siap pula untuk meninggalkan saya. Iya..sudah niatnya dia tidak mau sekolah di Medan. Pilihan pertama jatuh ke Surabaya, karena pamannya, paman kesayangannya, adik saya yang bungsu ada di sana. Saya memang tidak pula pernah melarangnya. Karena saya ingin dia tahu bahwa mendukung apa pun pilihannya dengan syarat dia bersungguh-sungguh.

Tapi...aahhh...perasaan saya bercampur aduk antara senang dan sedih. Senang karena dia benar-benar berniat untuk belajar mandiri, tapi sedih karena dia mau meninggalkan Medan, meninggalkan saya.

Rasanya masih segar dalam ingatan masa-masa saya mengandung dia. Saat itu saya masih sekolah, ko-asisten di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Hamil muda saya habiskan di bagian Kulit Kelamin dan masa-masa hamil tua saya stase di Bagian Anestesi. Kehamilan saya yang pertama ini benar-benar lancar dan aman, tidak ada morning sickness, selera makan juga baik. Saya sangat menikmati kehamilan saya meski saat itu harus bersekolah. Justru dengan keadaan ini saya mendapat "privilege" di setiap bagian yang saya lalui...hehe..
Ya namanya anak pertama, semua anjuran dokter dilaksanakan, senam hamil, banyak jalan, bahkan saya juga tetap renang meski perut melentung.
Dan lorong-lorong di rumah sakit Pirngadi pun menjadi track jalan saya setiap hari.

Tita lahir tahun 1991 tepat di hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus. Lebih cepat 2 hari dari taksiran tanggal persalinan. Beberapa hari sebelum tanggal kelahirannya, ayah saya kumat sakit jantungnya sehingga harus diopname di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Lalu saya diminta oleh ibu saya untuk ikut menemaninya menjaga ayah di rumah sakit.
"Kan sekalian nanti jika sudah waktunya melahirkan kau bisa langsung ke kamar bersalin" begitu alasan ibu saya.
"Ah..Mami...tanpa alasan itu pun saya tentu mau menjaga Papi.."

Tanggal 16 Agustus pagi, saya mendapat tanda-tanda akan melahirkan, lendir bercampur darah (slijm prop) muncul saat saya buang air kecil. Ibu saya langsung panik dan segera mengantar saya ke kamar bersalin dan meninggalkan ayah saya dengan suami saya saat itu (sekarang sudah jadi mantan suami..hehe).
Setelah diperiksa ternyata pembukaan masih 2 cm dan saya dianjurkan pulang saja. Tapi lagi-lagi ibu saya khawatir kalau saya brojol di kamar ayah saya, jadi kami mengambil kamar di bangsal bersalin.

Pagi hari tanggal 17, saya terbangun karena perasaan seperti ada yang menyentak di dalam perut lalu saya merasa tempat tidur saya basah. Tadinya saya pikir saya ngompol, tetapi setelah saya raba cairan tersebut sadarlah saya kalau ternyata ketuban sudah pecah. Lalu saya bangunkan suami dan lapor ke perawat.

Sambil menunggu dokter saya datang, saya mencoba mengatasi rasa sakit dengan mempraktekkan gerakan pernafasan dari Lamaze yang saya peroleh dari buku Lamaze yang saya baca selama kehamilan. Jam 08.00, dokter yang selama ini memeriksa kehamilan saya dr. Erdjan Albar tiba. Beliau seorang dokter senior, sangat sederhana dalam pemikiran dan gaya hidupnya. Dan saya benar-benar beruntung telah memilih beliau menjadi dokter saya.
Begitu beliau datang, beliau langsung berdiri di dekat kaki kanan saya dan langsung meminta saya untuk meletakkan kaki kanan saya di pinggulnya.
"Letakkan kakinya di situ dan sepak saya saat mengedan" perintahnya
What...? Are you sure....? Karena saya kelihatan ragu-ragu, beliau menginstruksikannya lagi.

Ternyata posisi itu membuat saya nyaman sehingga saat mengedan kaki saya yang menekan pinggul beliau menjadi penumpu dan tenaga pun rasanya bertambah.
Hanya tiga kali saya mengedan...dan lahir lah Tita..ah...melihat dia yang begitu montok dan mungil lupa lah semua rasa sakit tadi...

Setelah usia Tita 3 bulan, saya kembali melanjutkan stase saya di rumah sakit. Saya hanya sempat menyusuinya selama 2 bulan. Saya pernah menangis karena tidak bisa menyusuinya Dan pada saat dia sudah bisa makan saya pernah menangis karena dia tidak mau makan.
Saat saya stase di Bagian Bedah dan Kebidanan, di mana mahasiswa diharuskan tinggal di asrama adalah saat yang berat bagi saya. Adakala saya tidak bisa pulang dan Tita diantar ke asrama dan karena Tita kecil gendut dan menggemaskan, semua teman-teman berebutan menggendongnya.
Meski berat punya anak sambil sekolah tapi saya merasa beruntung bahwa saya sudah punya anak saat saya wisuda. Rasanya punya nilai plus membanggakan sekali. Tapi saya tidak akan menganjurkan Tita untuk mengikuti jejak saya..hehe

Tamat sekolah saya langsung bekerja di rumah sakit, ada dinas sore dan dinas malam.
Sehingga Tita tetap banyak saya tinggal.
Praktis yang lebih banyak mengasuh Tita adalah neneknya, ibu saya yang dia panggil Oma.

Ya itu lah...saat-saat dia mulai berpikir untuk meninggalkan saya, ada rasa sesal di hati, kenapa saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja daripada bersama dia.
Sepertinya banyak momen yang hilang. Banyak momen yang seharusnya saya bersama dia tapi terlewatkan oleh saya.
Hal-hal ini membuat saya sedih, ingin rasanya saya kembali dan memperbaiki apa yang belum saya lakukan bagi Tita. Saya ingin dia tahu kalau saya sangat mencintai dia termasuk saat kami bertengkar.
Ah...ah...seandainya saya bisa punya mesin waktu...

Hari-hari menjelang UAN ini saya ingin berusaha sebanyak mungkin berada bersama dia, saya ingin dia punya kenangan yang manis sebelum meninggalkan kami untuk pergi jauh menimba ilmu. Semoga....semoga....

Rabu, April 08, 2009

Berpakaian Sikh di Perayaan Tujuhbelasan

Masa dulu kami kecil-kecil di Kampung Baru, setiap tanggal 17 Agustus adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Karena di Kompleks RISPA, tempat kami tinggal Hari Kemerdekaan selalu dirayakan dengan berbagai macam kegiatan, ada bazaar yang diselenggarakan istri-istri karyawan RISPA, ada perlombaan-perlombaan, ada fashion show anak-anak, ada jamuan makan malam untuk karyawan dan keluarganya dan ada layar tancap.

Saya punya kenangan manis dan lucu untuk semua itu.

Bazaar seingat saya diadakan di hari Minggu sebelum tanggal 17 Agustus di halaman kantor. Bazaar ini terbuka untuk umum dan keluarga karyawan boleh berpartisipasi membuka stan penjualan. Dan dari tahun-ke tahun spesialisai keluarga kami adalah rujak gobed (gobed pakai t, atau pake d..gak ngerti deh..hehe).
Rujak gobed adalah rujak khas dari Jawa Timur, daerah asal ayah saya. Bengkuang, timun, nenas, mangga, jambu air diparut lalu diaduk dengan bumbu rujak yang terdiri dari campuran gula merah, petis dan cabe rawit.
Itulah rujak gobed.

Dan Ayah saya paling semangat kalau sudah mau jualan rujak gobed. Malam sebelum bazaar dia lah yang menyiapkan semua, mulai dari mengupas, memarut dan meracik bumbu rujaknya. Orang lain tidak boleh ikut campur dalam urusan rujak ini, termasuk Ibu saya.
Saat jualan esok harinya, ayah saya juga pintar menarik perhatian agar orang mau mampir ke stan kami. Tanpa malu-malu dia akan mempromosikan barang dagangannya.
"Ayo...beli rujak gobed...segar..sehat...asli dari Surabaya..." begitu teriakannya.

Hal lain yang saya ingat tentang perayaan tujubelasan di tahun 70an itu adalah layar tancap di halaman depan kantor. Biasanya yang diputar adalah film-film India. Makanya acara layar tancap selalu menjadi ajang hiburan buat para pembantu rumah tangga dan karyawan/ti kebun, juga sebagai arena kencan dan mencari jodoh..hehe
Perlengkapan nonton layar tancap adalah celana panjang, baju kaus lengan panjang beserta kaus kaki agar tidak digigit nyamuk, dan jangan lupa tikar pandan tempat kami duduk menonton layar tancap. Uh...seru sekali.
Tapi yang paling mengerikan sebenarnya bukan nyamuk, tapi pacet. Karena rumput halaman depan kantor rumputnya rumput gajah dan kalau lembab sedikit langsung ada pacetnya..hiiiii...


Tapi ada satu pengalaman traumatik buat saya dengan acara fashion show anak-anak di acara tujuhbelasan.

Ceritanya dulu di kompleks ada tukang jual susu sapi murni, seorang sikh, yang dikenal dengan sebutan orang Bengali karena berasal dari Bengal India. Setiap pagi dia mengantar susu naik sepeda, lalu berteriak "Sussuuuu...." di depan rumah-rumah langganannya. Sebagaimana orang sikh, ya mereka umumnya memakai sorban di kepala dan memelihara janggut.
Begitulah tukang susu ini menjadi langganan kami dan karena umumnya mereka juga pintar berbahasa Inggris, ibu saya jadi suka ngobrol dengan mereka. Akhirnya hubungan keluarga kami dengan keluarga tukang susu menjadi lebih akrab, lebih dari sekedar penjual dan pembeli.
Mungkin karena itu lah timbul ide , untuk fashion show di suatu acara tujuhbelasan, saya disuruh...atau lebih tepatnya dipaksa untuk mengikuti fashion show dengan memakai pakaian tradisional Sikh ini, tunik biru dengan celana panjang dan selendang. Tapi dari awal saya sudah menolak, tapi bagaimana lah namanya anak, kadang menolak pun tidak ada gunanya...hehe

Jadi pada hari H, saya didandani dengan tunik, dipakaikan celak mata (eyeliner) agar mirip seperti anak-anak Sikh, diberi gelang warna-warni yang kami beli di toko kain Narain di Kampung Keling (sekarang Kampung Madras).
Waktu didandani pun saya sudah tersiksa sekali, celak mata membuat mata terasa pedih...iiih..benci sekali.
Lalu saat tiba giliran saya naik ke panggung, saya mogok...saya benar-benar mogok..tapi saya ditarik-tarik untuk melenggak lenggok di panggung....saya merasa malu...lalu saya menangis.

Akhirnya mereka menyerah dan saya pun tidak jadi melenggak lenggong di panggung.
Saya bebas...tetapi rasanya ketakutan itu masih tinggal..
Mungkin dulu saya takut karena saya pikir kalau sudah dipakaikan celak, gelang dan dipakaikan baju tradisional Sikh, selanjutnya saya akan pindah ke rumah Sikh dan jadi anak Sikh...hehehe...
Mungkin trauma itu yang menyebabkan saya juga tidak mau jadi peragawati..

Hehehe...